-->

FOLLOW BY EMAIL

Monday, 25 February 2013

Anak Kebanggaan Ayah (Kisah Yang Mengharukan)

Seorang ayah bernama Bakri berumur penghunjung 40-an diundang sekolah anaknya untuk hadir pada 'Hari Ayah'. Sungguh dia amat enggan perkara seperti ini. Merasa sudah punya empat orang anak, bahkan yang tertua sudah masuk kuliah.

Ia merasa sudah gak umurnya lagi bersenda gurau dengan anak pada Hari Ayah di sekolah. Namun karena istri dan anaknya yang nomer empat memintanya dengan sangat, ia pun datang ke sekolah anaknya dengan hati berat. Seperti yang ia duga, acara di kelas hari itu menampilkan kebolehan masing-masing anak
dihadapan para ayah mereka. Terlihat di sana banyak para ayah yang berusia sekitar 30-an. Kesemua ayah itu antusias melihat buah hati mereka.


Bakri hanya tersenyum, berkatalah ia dalam hati; "Dulu aku juga seperti mereka saat punya anak
pertama. Tapi kini sudah gak zaman lagi baginya
acara anak-anak seperti ini." Satu per satu murid dipanggil untuk tampil ke depan
dan menunjukkan kebolehannya Selama 5 menit.
Usai penampilan maka ayah mereka dipanggil ke
depan untuk menerima hadiah yang telah disiapkan
oleh sang anak untuk ayah mereka. Ada yang
menampilkan kebolehan bernyanyi. Ada yang menulis dan baca puisi. Berpidato dengan bahasa
asing. Atraksi permainan dan banyak lagi. Kini giliran Umar, anak Bakri nomer empat yang
berusia 10 tahun dipanggil namanya untuk tampil ke
depan. Bakri mengira bahwa Umar pasti akan
menampilkan hal serupa dengan kawan-kawannya.
Diujung penampilan, Bakri harus berpura-pura
sumringah dan memberi pelukan hangat kepada Umar buah hatinya. Agar semua orang di kelas itu
tahu bahwa ia adalah ayah yang layak dibanggakan.
Ehemmm, itulah pikirnya! "Kamu ingin menampilkan apa untuk ayahmu,
Umar?" tanya ibu guru. "Aku akan tampil dengan
Ustadz Amir di depan" jawab Umar bersemangat. Ibu
Guru pun mempersilakan ustadz Amir untuk ke
depan kelas dan tak lupa ibu guru menjelaskan
kepada para ayah bahwa ustadz Amir adalah guru ekstra kurikuler yang mengajarkan baca Al Quran di
sekolah. "Nah Umar, kini giliranmu untuk memulai
penampilan..." ujar ibu guru. Umar mengucap salam. sedikit kata pembuka ia
ucapkan. Ia berkata bahwa ia akan membaca surat
Al Kahfi yang berjumlah 110 ayat. Sadar dengan
waktu yang terbatas ia meminta bantuan Ustadz
Amir untuk memegang mushaf Al Quran dan
menyebutkan ayat mana saja untuk ia baca. Para ayah yang hadir mulai berdecak kagum. Mereka
mengerti bahwa Umar bukan hanya akan membaca
Al Quran, namun dia malah sudah menghafalnya! "Baik, sekarang coba kamu baca ta'awudz dan
basmalah dan mulai dari ayat pertama....!" pinta
ustadz Amir. Dengan memejamkan mata, Umar mulai membaca.
Tak disangka...., suara yang keluar dari mulut Umar
terdengar begitu merdu. Rupanya Umar membaca Al
Quran mengikuti lantunan Qari cilik bernama
Muhammad Taha Al Junaid yang terkenal itu. Ia
membaca dengan hati yang tenang lalu membawa kedamaian pada setiap telinga yang mendengarnya. Ayat 1-5 telah dibaca Umar. Ustadz Amir
mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti
bacaan Umar yang merdu tanpa sekalipun beliau
putus. Lalu Ustadz Amir meminta Umar untuk
membaca dari ayat 60. Umar pun membaca dengan
suara yang menenangkan jiwa. Semua mata dari para ayah yang hadir kita mulai
berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap andai
anak2 mereka bisa seperti Umar. Demikian pula
dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tidak
sepenuh hati datang ke sekolah. Kini malah ia begitu
antusias! Lalu ustadz Amir meminta Umar untuk pindah lagi ke
ayat 107 -110 sebagai penutup penampilannya.
Maka Umar pun membacanya tanpa satu pun
kesalahan. Begitu Umar menyudahi bacaannya, belum juga
dipersilakan maka bangkitlah Bakri dari duduknya
dan langsung berjalan ke depan dan memeluk Umar. Terlihat rasa bangga yang terpancar dari wajah Bakri
usai melihat penampilan buah hatinya. Para hadirin
pun menyaksikan bahwa Bakri beberapa kali
menyeka air mata yang berderai di pipinya. Seisi ruangan terpukau dengan lantunan Al Quran
yang dibacakan dengan suara merdu Umar.
Menyudahi suasana yang haru itu, ibu guru
membuka tanya kepada Umar, "Mengapa engkau
ingin membaca Al Quran untuk ayahmu sedangkan
semua temanmu tak ada yang terpikir untuk melakukannya, Umar?" Rupanya Umar pun turut haru usai dipeluk
sedemikian hangat oleh sang ayah. Dengan mata
berkaca-kaca Umar berkata, "Ustadz Amir pernah
ajarkan aku untuk rajin belajar Al Quran. Beliau
sampaikan bahwa orang yang hafal Al Quran
membuat kedua orang tuanya mulia di akhirat. Kedua orang tua akan mendapat mahkota dari
cahaya dimana cahayanya lebih indah dari sinar
mentari dunia... Aku ingin, ayah & ibuku mendapat
kemuliaan seperti itu dari Allah Swt karena itu aku
belajar menghafal Al Quran bersama ustadz Amir." "Subhanallah...." terdengar suara para ayah
berkumandang di kelas itu. Semuanya berkeinginan
anak-anak mereka seperti Umar. "Apakah saya boleh bicara?" tanya Bakri kepada
para hadirin. Semua orang mempersilakan. "Hmmm...., hari ini adalah hari yang teramat bahagia
untuk saya. Anda semua para ayah tak ada bedanya
aku rasa. Kita menyekolahkan anak-anak kita di
sekolah terbaik seperti sekolah ini. Dengan biaya
yang tak murah, dengan segala fasilitas duniawi
yang serba ada. Mungkin dibenak kita para ayah adalah jangan sampai anak-anak kita tidak bisa
mengejar kemajuan dunia....
Terus terang aku sudah hampir 50 tahun. Aku
punya empat orang anak, dan Umar adalah putraku
yang terakhir. Dengan ambisi duniawiku, aku
sekolahkan ia di sini dengan harapan bahwa ia akan memiliki masa depan gemilang.
Aku tersadar bahwa pemikiran putraku ini justru
telah membuat masa depanku gemilang. Ia
mempelajari dan menghafal Kitabullah Al Quran agar
supaya kedua orang tuanya memiliki masa depan
yang gemilang di akhirat! Terima kasih anakku... Maafkan ayah yang lupa untuk mendidikmu untuk
mempelajari Al Quran...." Bakri pun lalu memeluk Umar kembali. Keduanya
menagis haru, dan seluruh kelas pun hening terdiam
menyaksikannya.....!


sumber
Get Free Updates
Follow us on:
facebook gplus rss
Comments
0 Comments

No comments:

FOLLOWERS