-->

FOLLOW BY EMAIL

Sunday, 22 June 2014

Innalillahi... Terbongkar, Dibelakang Jokowi Ada Jenderal-Jenderal Dalang Kerusuhan Mei 1998


JAKARTA (voa-islam.com) - Pembicaraan di rumah
Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang kemarin
menyeberang ke kubu Jokowi-JK demi melawan
Prabowo adalah bukti paling kuat yang
menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai
kerusuhan massa yang sangat marak menjelang
akhir Orde Baru karena terbukti terbukanya niat
Benny menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa
yang berpotensi mengejar orang Cina dan orang
Kristen.

Kesaksian Salim Said ini merupakan titik tolak
paling penting guna membongkar berbagai
kerusuhan yang tidak terungkap seperti Peristiwa 27
Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang akan
saya bongkar di bawah ini.
“Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah
Penasihat YPPI yang didirikan oleh para mantan
tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali
Moertopo. Hadir di rumah Fahmi [Idris] pada malam
itu para pemimpin demonstrasi 1966 seperti Cosmas
Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi
[Ketua PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal
27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; Husni Thamrin dan
sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik
waktu itu…

Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang
menurut Menhankam itu, ‘Sudah tua, bahkan sudah
pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan
yang baik. Karena itu sudah waktunya diganti’…
Benny kemudian berbicara mengenai gerakan massa
sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus
menanggapi, ‘Kalau menggunakan massa, yang
pertama dikejar adalah orang Cina dan kemudian
kemudian gereja. ‘ “

- Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi,
serangkaian kesaksian, Penerbit Mizan, halaman 316
A. Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi
Paling Keji Sepanjang Sejarah Indonesia
Selanjutnya bila kita hubungkan kesaksian Salim
Said di atas dengan kesaksian RO Tambunan bahwa
dua hari sebelum kejadian Megawati sudah
mengetahui dari Benny akan terjadi serangan
terhadap kantor PDI dan Catatan Rachmawati
Soekarnoputri, Membongkar Hubungan Mega dan
Orba sebagaimana dimuat Harian Rakyat Merdeka
Rabu, 31 Juli 2002 dan Kamis, 1 Agustus 2002.
Maka kita menemukan bukti adanya persekongkolan
antara Benny Moerdani yang sakit hati kepada
Soeharto karena dicopot dari Pangab (kemudian
menjadi menhankam, jabatan tanpa fungsi) dan
Megawati untuk menaikkan seseorang dari keluarga
Soekarno sebagai lawan tanding Soeharto, kebetulan
saat itu hanya Megawati yang mau jadi boneka
Benny Moerdani. Sedikit kutipan dari Catatan
Rachmawati Soekarnoputri:

“Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny
Moerdani mendekati saya [Rachmawati] terlebih
dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil
memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan
kanan Soeharto itu jelas saya tolak, bagi saya, PDI
itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk
sendiri oleh Soeharto tahun 1973. 

Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin boneka?
Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny
Moerdani, seperti Soerjadi dan Aberson Marie
Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI.
Tetapi tetap saya tolak .”
Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-
nama yang saling terkait dalam Peristiwa 27 Juli
1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati
Soekarnoputri; Dr. Soerjadi; Sofjan Wanandi; dan
Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah “eureka
moment” yang membongkar persekongkolan jahat
karena Aberson Marie adalah orang yang pertama
kali menyebar pamflet untuk regenerasi
kepemimpinan Indonesia dan diganti Megawati,
sehingga menimbulkan kecurigaan dari pihak Mabes
ABRI.

Dr. Soerjadi adalah orang yang menggantikan
Megawati sebagai Ketua Umum PDI di Kongres
Medan (kongres dibiayai Sofjan Wanandi dari CSIS)
yang mengumpulkan massa menyerbu kantor PDI
dan selama ini dianggap perpanjangan tangan
Soeharto ternyata agen ganda bawahan Benny
Moerdani, dan tentu saja saat itu Agum Gumelar
dan AM Hendropriyono, dua murid Benny Moerdani
berada di sisi Megawati atas perintah Benny
Moerdani sebagaimana disaksikan Jusuf Wanandi
dari CSIS dalam Memoirnya, A Shades of Grey/
Membuka Tabir Orde Baru.

Semua fakta ini juga membuktikan bahwa dokumen
yang ditemukan pasca ledakan di Tanah Tinggi
tanggal 18 Januari 1998 yang mana menyebutkan
rencana revolusi dari Benny Moerdani; Megawati;
CSIS dan Sofjan-Jusuf Wanandi yang membiayai
gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta
bukan dokumen buatan intelijen untuk
mendiskriditkan PRD sebagaimana diklaim oleh
Budiman Sejatmiko selama ini.

Ini menjelaskan mengapa Presiden Megawati
menolak menyelidiki Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun
harus mengeluarkan kalimat pahit kepada anak
buahnya seperti “siapa suruh kalian mau ikut saya?”
dan justru memberi jabatan sangat tinggi kepada
masing-masing: SBY yang memimpin rapat
penyerbuan Operasi Naga Merah; Sutiyoso yang
komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah;
Agum Gumelar dan Hendropriyono yang pura-pura
melawan koleganya.
Megawati melakukan bunuh diri bila menyelidiki
kejahatannya sendiri!

Bila dihubungkan dengan grup yang berkumpul di
sisi Jokowi, maka sudah jelas bahwa CSIS; PDIP;
Budiman Sejatmiko, Agum Gumelar; Hendropriyono;
Fahmi Idris; Megawati; Sutiyoso ada di pihak Poros
JK mendukung Jokowi-JK demi menghalangi upaya
Prabowo naik ke kursi presiden.
B. Kerusuhan Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani
Menggulung Soeharto; Prabowo; dan Menaikkan
Megawati Soekarnoputri ke Kursi Presiden.

Pernahkah anda mendengar kisah Kapten Prabowo
melawan usaha kelompok Benny Moerdani dan CSIS
mendeislamisasi Indonesia? Ini fakta dan bukan
bualan. Banyak buku sejarah yang sudah membahas
hal ini, dan salah satunya cerita dari Kopassus di
masa kepanglimaan Benny.

Saat Benny menginspeksi ruang kerja perwira
bawahan, dia melihat sajadah di kursi dan bertanya
“Apa ini?”. Jawab sang perwira, “Sajadah untuk
shalat, Komandan.” Benny membentak, “TNI tidak mengenal ini.”
Benny juga sering mengadakan rapat staf pada saat
menjelang ibadah Jumat, sehingga menyulitkan
perwira yang mau sholat Jumat.

Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika
tanggal 3 Januari 1997 mengatakan bahwa rekrutan
perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap
yang beragama Islam, misalnya kalau direkrut 20
orang, 18 di antaranya adalah perwira beragama
non Islam dan dua dari Islam.

Penelitian Salim Said juga menemukan hal yang
sama bahwa para perwira yang menonjol
keislamannya, misalnya mengirim anak ke pesantren
kilat pada masa libur atau sering menghadiri
pengajian, diperlakukan diskriminatif dan tidak akan
mendapat kesempatan sekolah karena sang perwira
dianggap fanatik, sehingga sejak saat itu karir
militernya suram.

Silakan perhatikan siapa para perwira tinggi beken
yang diangkat dan menduduki pos penting pada
masa Benny Moerdani menjadi Pangad atau
Menhankam seperti Sintong Panjaitan; Try Sutrisno;
Wiranto; Rudolf Warouw; Albert Paruntu; AM
Hendropriyono; Agum Gumelar; Sutiyoso; Susilo
Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard
Ryacudu; Johny Lumintang; Albert Inkiriwang;
Herman Mantiri; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei dan
lain sebagainya akan terlihat sebuah pola tidak
terbantahkan bahwa perwira yang diangkat pada
masa Benny Moerdani berkuasa adalah non Islam
atau Islam abangan (yang tidak dianggap “fanatik”
atau berada dalam golongan “islam santri” menurut
versi Benny).

Inilah yang dilawan Prabowo antara lain dengan
membentuk ICMI yang sempat dilawan habis-
habisan oleh kelompok Benny Moerdani namun tidak
berhasil. Tidak heran kelompok status quo dari
kalangan perwira Benny Moerdani membenci
Prabowo karena Prabowo yang menghancurkan cita-
cita mendeislamisasi Indonesia itu.


Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau
mendeislamisasi Indonesia?

Karena CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek
yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk
melawan komunis, namun setelah komunis kalah, dia
membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya
di Indonesia hanya dua, “Hijau ABRI” dan “Hijau
Islam”.

Lalu, Peter Beek menyimpulkan, ABRI bisa
dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah
CSIS yang dioperasikan oleh anak didiknya di
Kasebul : Sofjan Wanandi, Jusuf Wanandi, Harry
Tjan Silalahi ; mewakili ABRI: Ali Moertopo, dan
Hoemardani (baca kesaksian George Junus
Aditjondro, murid Pater Beek).

Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia
untuk melawan komunis namun setelah komunis
kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika
berikutnya di Indonesia hanya dua, “Hijau ABRI” dan
“Hijau Islam”

Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu Golkar-
PDIP-Hanura-NasDem ada hubungan dengan
kelompok anti Islam santri yang dihancurkan
Prabowo?

Silakan perhatikan satu per satu nama-nama yang
mendukung Jokowi-JK, ada Ryamizard Ryacudu
(menantu mantan wapres Try Sutrisno-agen Benny
untuk persiapan bila Presiden Soeharto mangkat).
Ada Agum Gumelar-Hendropriyono (dua « malaikat »
pelindung/bodyguard Megawati yang disuruh Benny
Moerdani); ada Andi Widjajanto (anak Theo Syafeii)
ada Fahmi Idris (rumahnya adalah lokasi ketika ide
Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998
pertama kali dilontarkan Benny Moerdani); ada
Luhut Panjaitan; ada Sutiyoso; ada Wiranto dan
masih banyak lagi yang lain.

Lho, Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar
sekali, bahkan Salim Said dan Jusuf Wanandi
mencatat bahwa Wiranto menghadap Benny
Moerdani beberapa saat setelah dilantik sebagai
KSAD pada Juni 1997. 
Saat itu Benny memberi pesan sebagai berikut:

“Jadi, kau harus tetap di situ sebab kau satu-
satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah
dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan
dihabisi Soeharto jika dia tahu.“
(Salim Said, halaman 320)

Tentu saja Wiranto membantah dia memiliki
hubungan dekat dengan Benny Moerdani, namun kita
memiliki cara membuktikan kebohongannya.
Pertama, dalam Memoirnya, Jusuf Wanandi
menceritakan bahwa pasca jatuhnya Soeharto,
Wiranto menerima dari Benny Moerdani daftar nama
beberapa perwira yang dinilai sebagai “ABRI Hijau”,
dan dalam sebulan semua orang dalam daftar nama
tersebut sudah disingkirkan Wiranto.
Ketika dikonfrontir mengenai hal ini, Wiranto
mengatakan cerita “daftar nama” adalah bohong.
Namun bila kita melihat catatan penting masa
setelah Soeharto jatuh maka kita bisa melihat
bahwa memang terjadi banyak perwira “hijau” di
masa Wiranto yang waktu itu dimutasi dan hal ini
sempat menuai protes.

Fakta bahwa Wiranto adalah satu-satunya orang
Benny Moerdani yang masih tersisa di sekitar
Soeharto menjawab sekali untuk selamanya
mengapa Wiranto menjatuhkan semua kesalahan
terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo;
mengatakan kepada BJ Habibie bahwa Prabowo
mau melakukan kudeta sehingga Prabowo dicopot;
dan menceritakan kepada mertua Prabowo, Soeharto
bahwa Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama
menjatuhkan Soeharto, sehingga Prabowo diusir dan
dipaksa bercerai dengan Titiek Soeharto. Hal ini
sebab Wiranto adalah eksekutor dari rencana Benny
Moerdani menjatuhkan karir dan menistakan
Prabowo.

Membicarakan “kebejatan” Prabowo tentu tidak
lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan Mei 1998 yang
ditudingkan pada dirinya padahal saat itu jelas-jelas
Wiranto sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang
membawa semua kepala staf angkatan darat, laut
dan udara serta menolak permintaan Prabowo untuk
mengerahkan pasukan demi mengusir perusuh.
Berdasarkan temuan fakta di atas, bahwa Benny
Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui
kerusuhan rasial, dan Wiranto adalah satu-satunya
orang Benny di lingkar dalam Soeharto, maka sangat
patut diduga Wiranto memang sengaja melarang
pasukan keluar dari barak menghalangi kerusuhan
sampai marinir berinisiatif keluar kandang.


Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan
kelompok Benny Moerdani ada di belakang
Kerusuhan Mei 98
adalah sebagai berikut:

1. Menjatuhkan lawan menggunakan “gerakan
massa” adalah keahlian Ali Moertopo (guru Benny
Moerdani) dan CSIS sejak Peristiwa Malari di mana
malari meletus karena provokasi Hariman Siregar,
binaan Ali Moertopo (lihat kesaksian Jenderal
Soemitro yang dicatat oleh Heru Cahyono dalam
buku Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan
Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar Harapan).

2. Menurut catatan TGPF Kerusuhan Mei 98
penggerak lapangan adalah orang berkarakter militer
dan sangat cekatan dalam memprovokasi warga
menjarah dan membakar. Ini jelas ciri-ciri orang
yang terlatih sebagai intelijen, dan baik Wiranto
maupun Prabowo adalah perwira lapangan tipe
komando bukan tipe intelijen, dan saat itu hanya
Benny Moerdani yang memiliki kemampuan
menggerakan kerusuhan skala besar karena dia
mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali
Moertopo (mengenai jaringan yang dibangun Ali
Moertopo bisa dibaca di buku Rahasia-Rahasia Ali
Moertopo terbitan Tempo-Gramedia).
Lagipula saat kejadian terbukti Benny Moerdani
sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen
bahwa orang lapangan saat kerusuhan 27 Juli 1996
dan Mei 98 dilatih di Bogor!!!

3. Alasan Megawati setuju menjadi alat Benny
Moerdani padahal saat itu keluarga Soekarno sudah
sepakat tidak terjun ke politik dan alasan Benny
Moerdani begitu menyayangi Megawati mungkin
adalah karena mereka sebenarnya pernah menjadi
calon suami istri dan Soekarno sendiri pernah
melamar Benny, pahlawan Palangan Irian Jaya itu
untuk Megawati, namun kemudian Benny memilih
Hartini wanita yang menjadi istrinya sampai Benny
meninggal (Salim Said, halaman 329).

Berdasarkan semua fakta dan uraian di atas maka
kiranya sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan
Kelompok Benny Moerdani, dalang Peristiwa 27 Juli
1996 dan Kerusuhan Mei 1998 ada di belakang
Jokowi-JK dengan mengorbankan keutuhan partai
masing-masing (PDIP, Hanura, Golkar) untuk
melawan Prabowo adalah dendam kesumat yang
belum terpuaskan sebab Prabowo menjadi
penghalang utama mereka ketika mencoba
mendeislamisasi Indonesia. 

[hudzaifah/Berric Dondarrion/voa-islam.com]

SUMBER :
nahimunkar
Get Free Updates
Follow us on:
facebook gplus rss
Comments
0 Comments

No comments:

FOLLOWERS